-->

Iklan

Penghianatan Marhaenis Terhadap Marhaenisme: Sebuah Kesaksian

Wednesday, October 2, 2019, 10:28 AM WIB Last Updated 2019-10-31T16:04:40Z

SOEKARNO memang tidak seberuntung Marx. Si bung tidak pernah memiliki teman semulia, Friedrich Engels, yang mau menghabiskan masa tuanya demi perbaikan proyek dan karya-karya mesistematiskan Marx. Meskipun sepeleh dan mungkin terdengar romantik, tapi barangkali ini salah-satu yang membuat Soekarno benar-benar membangun kala De-Soekarnoisasi digalangkan Orde Baru. Tidak ada yang membalik mimpi Soekarno, tidak ada tinjauan lebih lanjut atas karya-membantunya, tentu saja dengan bobot yang tidak asal jadi . Jangankan disistematiskan, seperti yang dilakukan Engels atas karya-Marx, pembacaan atas teks Soekarno pun dilakukan dengan penghianatan.
Di antara perbedaan itu, Soekarno dan Marx telah membantah: membantunya dibelokkan dengan berhasil dengan sangat parah. Pemikiran Marx tentang komunisme, misalkan, membantu sebagai apa pun yang dimiliki bersama : bebek saya adalah milik bersama semua orang, bahkan istri saya adalah milik semua orang. Sebenarnya komunisme yang telah dikritik oleh Marx berabad-abad sebelumnya sebagai komunisme mentah . Namun, demi membinasakan Marxisme dari muka bumi ini, pembelokkan se-munafik yang dilakukan dengan suka-cita. Hal ini dapat kita lihat dari cara Orde Baru membuat opini masyarakat tentang komunis, dan saya mendengar 'resolusi komunisme' ini dari seorang pria berusia laki-laki berusia 65 tahun.
Karena kepentingan yang sama, menantang Soekarno pun diobok-obok. Marxisme segera diceraikan dari Marhaenisme. Bahkan, kita tahu, nama Soekarno sendiri sampai dicabut sebagai bapak Marhaenisme. Oleh siapa semua itu dilakukan? Oleh orang-orang yang dahulunya menyanjung-nyanjung Soekarno, oleh mereka yang menggunakan partai yang didirikan oleh Soekarno, oleh gerombolan yang malah menerima Marhaenis. Soekarno merupakan ke-ironis-an yang diundang. Di akhir-akhir berlalu, ia berhasil dengan cara yang lebih kejam dari kolonial memegangnya.
Saya teringat mengutip Sudisman dalam Uraian Tanggung Jawab -nya, yang diambil detik-detik ia ditangkap tentara Indonesia bahkan lebih kejam kompilasi tentara Jepang ditangkapnya. Ya, bangsa kita menyetujui lebih kejamakukan sesamanya dari bangsa lain memperlakukan bangsa ini. Barangkali ini yang membuat Pramoedya Ananta Toer tidak pernah mau saling-memaafkan untuk kekejaman '65.
Sebenarnya, banyak sekali yang telah diobok-obok dari pemikiran Soekarno. Namun, tentu saja, untuk menguraikan dan menyajikan itu semua membutuhkan waktu yang sangat lama dengan kerja yang serius dan melelahkan. Perlu dilakukan pembacaan lebih lanjut dan sistematis atas karya-karya Soekarno dan kondisi historis yang mengondisikannya, begitu pula kondisi historis yang telah membuat sulitnya kian-kabur — jika perlu tanpa tedeng-aling-aling tunjuk sebagai yang bisa digunakan. Dari kesulitan ini, saya harus menantang-terima kasih untuk IndoPROGRESS yang telah menjadikan Soekarno dan berpikirnya sebagai tema perbincangan beberapa hari ini. Tulisan-tulisan tersebut, semoga bisa memancing lebih jauh lagi kajian atas pemikiran Soekarno.
Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman saya berada di dalam lingkungan organisasi yang mengirim diri Anda sebagai pengikut diskusi Soekarno, namun di dalam terjemahan banyak setelah membaca teks Soekarno yang berusaha membunuh Soekarno sendiri. Ada Tiga Hal gede Yang akan Saya bicarakan here: Pertama , Berlangganan bagaimana pembacaan differences 'siapa Marhaen' Yang terombang-ambing. Kedua , terkait bagaimana sosio-nasionalisme diimplementasikan dalam kebijakannya dengan program bergengsi Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Bela Negara. Ketiga , pilihan strategi pergerakan yang dipilih oleh golongan Marhaenis — tentu saja saya setuju — telah mereduksi tujuan Marhaenisme itu sendiri.

Siapa Marhaen?
Jika diminta, apa yang diizinkan Soekarno mengelaborasi Marhaenisme? Tentu saja, jawab tidak bisa lain: Marhaen. Marhaen yang disetujui tidak hanya sebatas yang telah diceritakan oleh Soekarno dalam Penyambung Lidah Rakyat , yang diterjemahkan Marhaen sebagai nama petani yang memiliki sedikit alat produksi tetapi dimiskinkan oleh sistem. Inilah yang unik dari Soekarno dan mesti dilihat dengan baik. Ia sering menggunakan bahasa yang dibuat sedemikian rupa oleh rakyat, sehingga ia pun sering menggunakan cerita-cerita sebagai alat untuk memecahkan pemikirannya, bahkan ia pun menggunakan personifikasi untuk menggambarkan realitas yang luas. Yang terakhir ini kita bisa memutar dari Marhaen dan Sarinah. Terkait personifikasi yang diangkat.
Menyandarkan diri Anda pada abstraksi yang dibangun di atas cerita Marhaen sebagai orang dalam Penyambung Lidah Rakyat memiliki menggelikan yang menggelikan, membuat perbedaan Marhaen dan proletar. Untuk yang ini, organisasi marhaenis tempat saya bernaung lebih dulu setiap kaderirasi penerimaan anggota baru muncul pertanyaan: apa bedanya marhaen dan proletar? Peserta kaderisasi — dan jujur ​​termasuk saya waktu itu — dengan begitu lantang menjawab: Marhaen punya alat produksi, jika proletar tidak . Padahal, dalam Dibawah Bendera Revolusi sudah menjadi proletar masuk sebagai kategori Marhaen. Rudi Hartono dalam tulisannya Soekarno dan Marxisme sudah cukup baik menjelaskan hal tersebut.
Saya hanya akan menambahkan sedikit di sini. Pertanyaan yang muncul tentu saja keluar dari yang gagal-itu mengerti pengertian Marhaen itu sendiri. Marhaen masih terlihat sebagai orang yang mewujud dalam sosok petani. Ini membuktikan, organisasi yang mengangkat Marhaenisme sebagai azasnya pun abai terhadap kondisi yang menuntut Soekarno pada kala itu di Hindia-Belanda. Di sini terlihat pula gagap metode dalam melihat dasar yang dilihat Soekarno.
Sementara itu, jika hanya perlu membaca Marhaen mau sedikit lebih banyak teliti, kita bisa mulai dari titik pijak yang telah diminta oleh Soekarno sendiri. Soekarno mengatakan, "Jika ingin mencari Marhaenisme, seseorang harus tahu tentang Indonesia dan sedikit tentang Marxisme." Sebenarnya dua hal itu memiliki hubungan-hubungan yang tak terpisahkan satu sama lain. Kondisi Indonesia sebagai Realitas Tujuan yang akan diselesaikan guna dikaji. Sementara sedikit Marxisme yang penting adalah inti dari Marxisme itu sendiri, materialisme dialektika dan materialisme historisRudi Hartono benar, bahwa Soekarno menggunakan kelas analisis - yang sebagian Marhaenis masih tertukar-pertukaran dengan kelas perjuangan (akan saya bahas di bagian selanjutnya) -tentu saja pangkalnya adalah MDH.
Tesis materialisme historis, dasar mengondisikan superstruktur, contoh dapat dilihat dengan sangat terang dalam tulisan-tulisan Soekarno di DBR ; Bagaimana ia mengambil sebagian sikap yang diambil rakyat selalu berangkat dari analisis ekonomi-politik, bahkan menurut saya penyajian tulisan Soekarno pun mencerminkan penerapan metode materialisme historis. Lebih jauh, dalam Sarinah , Soekarno menyatakan penindasan dan perubahan hukum yang disetujui perempuan dan laki-laki semuanya dikondisikan oleh ekonomi-politik, bukan moralitas dan lain-lain. Namun, ditolak, Marxisme berusaha dihabisi dari Marhaenisme, hingga akhirnya metode Marhaenisme itu sendiri menjadi ngalor-ngidul dan menemukan bentuk anehnya dalam rumusan metode berpikir Soekarno / marhaenis.
Di sini jelas, pengertian Marhaen yang membedakannya dari Proletar telah melenyapkan kondisi Indonesia sebagai ontologi dan sedikit Marxisme sebagai kesulitan (epistemologi). Dengan membalik kedua hal tersebut, Marhaenis membalikkan menjadi naif dalam mengalihkan tantangan sejarah. Seolah-olah Marhaenisme menampik mengambil Proletar yang lahir dari rahim kapitalisme dan satu-satunya kelas yang memerlukan merobohkan kapitalisme. Ironisnya, hal ini membalik disadari betul oleh Soekarno sebagaimana yang dituliskan dalam Marhaen dan Proletar .
Meminta, kita bertanya sambil menunjuk orang yang masih mengerti Marhaen dan Proletar: ada kepentingan apa di balik pembedaan tersebut? Jangan-jangan ini adalah upaya yang sengaja dilakukan demi melestarikan 'kematian' Soekarno.
Marhaen muncul dalam definisi : marhaen hidup sebenggol sehari-hari . Pernyataan ini dibuatkan kesimpulan tentang sesorang yang dapat menjelaskan Marhaen hanya jika hidup sehari-hari sebenggol. Kesalahan ini begitu bodoh karena dua hal. Pertama , ungkapkan ini muncul karena pembacaan yang ngawur atas tulisan Soekarno Orang Indonesia Tjukup Nafkahnja Sebenggol Sehari? Padahal, dalam tulisan tersebut Soekarno hanya memaparkan kondisi Marhaen dalam kondisi tertentu, yaitu masa krisis atau yang disebut dengan istilah zaman mlesetArtinya, Marhaen yang hidup dengan sebenggol sehari-hari tidak wajib untuk semua rentang waktu. Dalam kata lain, Soekarno tidak dapat merumuskan suatu ukuran matematis untuk Marhaen, sama seperti kompilasi Bank Dunia merumuskan patokan matematis untuk seseorang yang memahami miskin. Marhaen harus dilihat dengan metode MDH yang bermuara pada analisis kelas, bukan ukuran matematis seperti itu. Marhaen tetap ada selama kondisi yang melahirkannya ada, yaitu kapitalisme-imperialisme / kolonialisme dan feodalisme.
Kekenyolan kedua , definisi ini membuat diskursus lanjutan yang dikeluarkan sia-sia, sebaran pencarian ukuran sebenggol sehari jika dikonverter dalam rupiah saat ini sesuai dengan jumlah. Pernah seorang alumni organisasi saya bahkan sampai mengatakan pahit: "Bank Dunia saja bisa merumuskan ukuran untuk orang miskin, masa Marhaenis tidak bisa (dengan merumuskan nilai sebenggol dalam rupiah saat ini)" . Pernyataan pahit yang membikin saya tersedak-sedak tertawa kalau mengingatnya.
Sangat miris, Marhaen yang merupakan prasyarat bagi Marhaenisme setiap orang yang dapat dibela dan diperjuangkan oleh Marhaenisme harus dengan didukung payah dipahami oleh orang-orang yang percaya diri Marhaenis. Pertanyaan menggelikan yang kemudian diajukan, dengan begini, apakah lantas siapa yang mau dibela?

Sosio-nasionalisme dan Bela Negara
Beberapa waktu yang lalu saya pernah mengulas opini Bela Negara di IndoPROGRESS dan saya tidak menyangka tulisan tersebut menuai kritik yang nyinyir sekaligus menjijikkan: “nasionalis kok membatalkan Bela Negara” . Entah yang mengatakan demikian memang sudah membaca tulisan saya atau belum, namun menurut pengakuan yang lain orang ini sekarang sedang mengupayakan membuat pelatihan Bela Negara. Dengan demikian, saya bisa menarik kesimpulan, orang ini memang penggemar Bela Negara. Meskipun tidak penting tapi dinyatakan tadi mesti dibongkar, untuk membuktikan itu penganut Marhaenisme yang juga pasti menganut sosio-nasionalisme macam saya dan orang yang nyinyir tadi tidak dapat mendukung program Bela Negara, memang benar-benar menyandarkan laporan pada sosio-nasionalisme
Soekarno tidak pernah mengatakan dalam salah-satu tulisan di Dibawah Bendera Revolusi , itulah arti dari nasionalismenya adalah rakyat. Inilah sebabnya, bagi Soekarno, sosial-nasionalisme harus menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera yang terbebas dari semua praktik penghisapan dan penindasan seperti kapitalisme dan feodalisme. Ini yang disetujui dari istilah humanty dalam mengeluarkan Soekarno kompilasi menyitir Mahatma Gandhi, "nasionalisme saya adalah kemanusiaan" . Seperti juga yang ia ungkapkan dalam sambutan tahun 1959, semua orang di bawah atap langit tidak ingin ditindas baik oleh bangsa lain maupun bangsanya sendiri. Alasan ini pula yang membebaskan Soekarno yang menolak kapitalisme bangsa itu sendiri dengan begitu tegas.
Dengan rumusan yang seperti itu, sosio-nasionalisme bertujuan untuk menjungkirbalikkan kapitalisme dan mencipta sosialisme Indonesia. Jadi, terang saja, siapa pun yang ikut menindas Marhaen, baik bangsa sendiri maupun bangsa asing mesti dilawan. Pertanyaanya: siapa 'negara' yang akan dibela melalui program Bela Negara? Dan apakah ada dalam program Bela Negara yang membebaskan rakyat dari belenggu kapitalisme dan feodalisme? Sementara kita sendiri tahu siapa Ryamizard Ryacudu, orang yang menjawabnya malah meminta tidak logis sama sekali. Kita tahu pula, bagaimana program Bela Negara dibikin dari pembicaraan Angkatan Darat yang sedang fobia dengan proksi perang . Kita juga tahu, itu hanya omong kosong belaka.
Bagi saya, membelanjakan program Bela Negara yang dilakukan oleh orang yang diminta dari organisasi yang memegang Marhaenisme adalah penghianatan atas Marhaenisme itu sendiri. Dengan begitu, ini penghianatan terhadap Soekarno. Ini adalah kemenangan kesekian dari Soekarno. Di sini saya mengecam semua Marhaenis yang mendukung, didukung jika merumuskan dan ikut membuat terlaksananya program Bela Negara!

Menyoal Artikulasi Gerakan Marhaenis
Saya memenangkan, sebagian besar orang yang sudah pensiun dari organisasi saya sebagian besar menyelesaikan perjuangan ke elit-politik. Sebaliknya pilihan ini terkesan seragam, dengan pilihan yang juga sama: bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDIP). Tidak salah dengan ikut partai dan tidak salah juga berjuang di wilayah elit-politik. Tidak bisa dipungkiri hal itu memang sangat diperlukan.
Akan menjadi pilihan yang dipilih Ini menjadi pilihan yang paling seragam. Lebih jauh lagi, pilihan yang dipertaruhkan dalam konteks elit-politik tidak dapat diiringi dengan pengorganisiran rakyat. Bahkan, saya melihat, untuk Marhaenis ini ujung-ujungnya sama saja dengan politisi lain yang membuat rakyat hanya sebagai konstituen dalam pemenangan Pemilu. Karena, wajar saja jika dengan sekian banyak golongan Marhaenis ini menceburkan diri ke elit-politik dan meraih kursi, tetapi tidak ada apapun yang penting bagi perkembangan sosialisme di Indonesia. Hanya ada satu, sesama Marhaenis ini saling sikut satu sama lain demi kepentingan kursi dan konstituennya tetap aman.
Dengan demikian, alih-alih menceburkan diri ke wilayah perjuangan elit-politik mengambil gerakan menemukan celah-celah di sana, sebaliknya, perilakunya sendiri menjadi kian elitis. Ini ibarat orang yang ingin menasehati orang lain untuk berhenti mengonsumsi minuman keras, tapi kompilasi ditawari dia terima dan sulit menjadi pemabok yang lebih parah dari yang dinasehatinya. Alih-alih menjadikan partai sebagai alat guna merebut kekuasaan dan menegakkan Sosialisme Indonesia, para Marhaenis ini menentang menjadi kacung partai dan penyembah kursi kekuasaan. Semoga, dapatkan ini dari mendapat yang ikut menceburkan diri dalam pertarungan tersebut.
Dengan demikian, semakin nyatalah perjuangan yang disebut untuk menegakkan Marhaenisme sebaliknya mereduksi habis visi Marhaenisme itu sendiri. Marhaenisme bertujuan membangun Sosialisme Indonesia yang otomatis berhadapan langsung dengan kapitalisme, apakah dapat dibangun dengan artikulasi gerakan yang hanya dapat bersandar pada wilayah elit-politik yang telah menjadikan dirinya elitis? Dapatkan kapitalisme gratis dengan jalur parlementer tanpa revolusi? Memikirkan revolusi terwujud tanpa kekuatan massa-rakyat?
Ya, di tangan para Marhaenis ini Marhaenisme hanya diambil sebagai kumpulan slogan yang dikeluarkan dari DBR guna menghiasi status faceboo k , twitter, dan poster-poster. Soekarno tidak lebih hanya sosok yang berhasil memulihkan wajah personifikasinya tetapi ditolak visi membantunya. Soekarno hanya dijadikan pelengkap spanduk kompilasi mereka mencalonkan diri menjadi wakil rakyat guna meraup suara. Soekarno dan Marhaenisme hanya menjadi pemanis bibir yang dibicarakan sampai semalaman suntuk sambil minum kopi, namun esoknya lupa.
Dahulu menceburkan diri di wilayah elit dengan alasan perjuangan. Saat ini susah payah percaya bahwa itu benar-benar perjuangan. Pantaslah saja, jika pereduksian terhadap pemahaman Marhaen dibiarkan, pereduksian implementasi sosio-nasionalisme menjadi Bela Negara menyetujui biasa dan bahkan harus. Nyata-nyatanya, di tangan para Marhaenis ini, Marhaenisme dianggap tidak penting dan tidak lebih dari dongengan indah masa lalu yang hanya bisa dilestarikan sebagai penghibur adek-adek mahasiswa yang masih menggebu-gebu, untuk kemudian dapat digunakan sebagai pendukung setianya.
Para Marhaenis yang masih sadar betul arti penting Marhaenisme, yang masih paham betul arti penting rakyat, perlu lebih sulit untuk muncul kepermukaan menyuarakan yang selama ini salah dan mengampanyekan apa pun yang kita inginkan para Marhaenis lapuk itu. Dan sudah tiba Marhaenis bergabung dengan Marxis dan Islam-Progresif yang lebih dulu mendahului kita.
Soekarno benar, untuk membuat Indonesia merdeka kita harus bersatu. Seperti kata Zely Ariane , kita butuh semua orang untuk menang. Semua orang yang tahu lawan dan kawan. ***

Penulis adalah Mahasiswa Filsafat UGM dan Wakabid Kaderisasi GMNI Yogyakarta
Komentar

Tampilkan

  • Penghianatan Marhaenis Terhadap Marhaenisme: Sebuah Kesaksian
  • 0

Terkini

Ads