BREAKING NEWS

Bitcoin Hadapi Tekanan Baru, Investor Tunggu Sinyal The Fed





Pasar aset digital kembali bergerak penuh perhatian setelah Bitcoin (BTC) mengalami koreksi menjelang agenda besar ekonomi Amerika Serikat. Harga Bitcoin berada di bawah level psikologis US$80.000, tepatnya di sekitar US$78.119,62, setelah turun 1,75 persen dalam perdagangan 24 jam terakhir.

Penurunan Bitcoin terjadi bersamaan dengan pelemahan pasar kripto global yang mengalami koreksi sekitar 2,01 persen. Investor kini memilih bersikap hati-hati karena keputusan The Fed mengenai kebijakan suku bunga pada 16 September 2026 dapat menjadi penentu arah pasar berikutnya.

Menurut data FLOQ, pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan bahwa aset kripto semakin dipengaruhi oleh kondisi ekonomi makro. BTC memiliki hubungan erat dengan pergerakan pasar saham AS, terutama indeks Russell 2000. Korelasi yang mencapai sekitar 83 persen memperlihatkan bahwa Bitcoin semakin merespons perubahan sentimen investor terhadap risiko global.

Tekanan harga Bitcoin juga diperkuat oleh aktivitas likuidasi perdagangan leverage. Lebih dari US$378 juta posisi kripto mengalami likuidasi dalam satu hari, sebagian besar berasal dari posisi long.

Likuidasi tersebut terjadi ketika harga bergerak berlawanan dengan posisi investor sehingga sistem perdagangan otomatis menutup posisi yang tidak lagi memenuhi persyaratan margin. Akibatnya, tekanan jual meningkat dan volatilitas pasar menjadi lebih tinggi.

Inflasi Amerika Menjadi Faktor Penentu


Investor kini menunggu publikasi data CPI Amerika Serikat yang dijadwalkan pada 11 September 2026. Data tersebut akan menjadi bahan pertimbangan utama pasar dalam memperkirakan keputusan The Fed.

Kenaikan inflasi dapat memperkuat kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat, sementara inflasi yang melandai berpotensi membuka ruang bagi kebijakan yang lebih longgar.

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai kondisi Bitcoin saat ini merupakan bagian dari respons pasar terhadap perubahan ekonomi global.

“Bitcoin sedang berada dalam fase penyesuaian terhadap ekspektasi pasar. Investor tidak hanya melihat harga BTC, tetapi juga memperhatikan arah suku bunga, likuiditas, dan kondisi ekonomi Amerika Serikat,” kata Yudhono.

Ia menambahkan bahwa koreksi jangka pendek tidak selalu menunjukkan perubahan tren besar.

“Volatilitas merupakan bagian dari pasar aset digital. Yang terpenting adalah memahami faktor yang mendorong pergerakan tersebut dan menerapkan pengelolaan risiko yang tepat,” ujarnya.

Bitcoin Perlu Pertahankan Area Support


Secara teknikal, level US$78.000 menjadi perhatian utama. Apabila Bitcoin mampu bertahan, peluang konsolidasi menuju US$79.200 masih terbuka.

Namun, penurunan di bawah level tersebut dapat membawa BTC menguji area US$76.300 hingga US$77.000.

Di sisi lain, penguatan kembali di atas US$79.200 dapat menjadi sinyal pemulihan dan membuka peluang pengujian menuju US$80.000 hingga US$80.500.

Meskipun mengalami tekanan, Bitcoin masih berada di atas rata-rata pergerakan 20 hari yang menunjukkan bahwa tren pemulihan belum sepenuhnya kehilangan momentum.

Selain itu, indeks Fear and Greed yang berada di angka sekitar 69 atau kategori Greed menunjukkan sebagian investor masih mempertahankan optimisme terhadap pasar kripto.

Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada hasil CPI dan keputusan The Fed. Kedua faktor tersebut akan menjadi penentu apakah Bitcoin mampu kembali membangun momentum kenaikan atau masih harus menghadapi fase konsolidasi.

“Investor perlu melihat pasar secara disiplin dan tidak hanya bereaksi terhadap pergerakan harga harian. Data ekonomi dan kondisi pasar secara keseluruhan akan menjadi panduan penting,” tutup Yudhono.
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar