Dua Belas Tahun di Indonesia dan Nilai-Nilai yang Mengubah Cara Saya Melihat Kehidupan
Ada perubahan yang baru dapat kita lihat setelah waktu berlalu cukup lama.
Ketika keluarga kami pertama kali membangun kehidupan di Indonesia, saya tidak pernah membayangkan bahwa hampir dua belas tahun kemudian saya akan melihat dunia dengan cara yang sedikit berbeda.
Perubahan itu tidak datang melalui satu pengalaman besar. Tidak ada satu hari tertentu ketika saya tiba-tiba merasa telah memahami Indonesia.
Semuanya terbentuk melalui kehidupan sehari-hari.
Dari orang-orang yang bekerja bersama kami. Dari lingkungan tempat kami tinggal. Dari pengalaman anak-anak di sekolah. Dari percakapan dengan orang asing. Dari doa singkat sebelum perjalanan. Dari meja permainan bridge. Bahkan dari bahan-bahan baru yang perlahan memenuhi dapur kami.
Selama bertahun-tahun, saya hanya memperhatikan semua itu tanpa mencoba memberinya nama.
Ketika akhirnya diminta menulis mengenai pengalaman hidup di Indonesia, saya mulai menyadari bahwa banyak hal yang saya kagumi sebenarnya memiliki istilah khusus dalam bahasa Indonesia.
Ada gotong royong. Ada ramah. Ada ikhlas. Ada sabar, syukur, adem, dan harga diri.
Namun mengetahui sebuah kata berbeda dengan benar-benar memahami maknanya.
Saya memahami sebagian besar nilai tersebut bukan melalui definisi, melainkan melalui manusia.
Sebuah Rumah yang Mengajarkan Arti Kebersamaan
Salah satu pengalaman pertama datang dari kehidupan di rumah kami sendiri.
Para anggota staf rumah tangga memiliki pekerjaan masing-masing. Namun dalam praktiknya, batas antara satu tugas dan tugas lain sering tidak terlalu penting.
Ketika seseorang selesai lebih cepat, ia membantu pekerjaan rekannya. Jika ada anggota tim yang sakit, orang lain mengambil bagian yang perlu dikerjakan.
Semua berlangsung secara alami.
Tidak ada yang sibuk menghitung apakah pekerjaan tertentu berada di dalam atau di luar tanggung jawabnya.
Pada saat itu, saya hanya berpikir bahwa kami telah bertemu dengan sekelompok orang yang sangat baik.
Kemudian saya mengenal istilah gotong royong.
Barulah saya memahami bahwa apa yang saya lihat bukan sekadar kebaikan individual. Ada cara pandang yang lebih luas di baliknya.
Dalam gotong royong, persoalan seseorang dapat menjadi perhatian bersama. Membantu tidak selalu menunggu permintaan. Orang bergerak karena melihat ada sesuatu yang perlu dilakukan.
Nilai itu sangat sederhana, tetapi dampaknya besar.
Ia mengubah sekelompok individu menjadi komunitas.
Berhasil Bersama, Bukan Sendirian
Saya kembali menemukan semangat serupa melalui pendidikan kedua putra kami.
Sebagai orang tua, kami tentu berharap mereka berhasil. Kami ingin mereka menemukan bakat, bekerja keras, memiliki kepercayaan diri, dan menggunakan setiap kesempatan yang tersedia.
Sekolah mereka mendorong semua hal itu.
Namun ada pesan lain yang terus muncul dalam berbagai bentuk.
Prestasi pribadi tidak memberi seseorang hak untuk mengabaikan orang lain.
Anak-anak diajarkan untuk bersaing tanpa kehilangan kepedulian. Mereka didorong berkembang, tetapi juga diingatkan bahwa kemampuan dapat digunakan untuk mengangkat orang lain.
Di kelas, di lapangan olahraga, dalam kegiatan seni, dan selama mengikuti program sosial, gagasan tersebut terus diulang.
Berhasil merupakan sesuatu yang baik.
Namun membuat keberhasilan menjadi ruang yang juga dapat dimasuki orang lain mungkin jauh lebih berarti.
Mengapa Kata Ramah Sulit Diterjemahkan
Ada pengalaman lain yang sangat lekat dengan kehidupan saya di Indonesia: perasaan diterima.
Bahasa Indonesia memiliki kata ramah. Dalam bahasa Inggris, kata itu mungkin paling dekat dengan friendliness. Tetapi pengalaman saya menunjukkan bahwa maknanya lebih dalam.
Ramah bukan semata-mata tersenyum atau bersikap sopan.
Ramah adalah kemampuan mengurangi jarak.
Saya merasakannya ketika berbicara dengan narasumber dalam pekerjaan saya sebagai jurnalis lepas. Saya menemukannya saat berbincang dengan pengemudi Grab, berada di salon, mengunjungi pasar, bermain bridge, atau mencoba memulai percakapan dalam bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia saya tentu jauh dari sempurna.
Saya melakukan banyak kesalahan.
Namun kesalahan itu jarang membuat saya merasa dipermalukan. Sebaliknya, orang-orang sering menunjukkan antusiasme hanya karena saya mencoba.
Bagi seseorang yang hidup sebagai ekspatriat, sikap seperti itu sangat berarti.
Keramahan yang tulus dapat mengubah sebuah kota asing menjadi tempat yang terasa lebih dekat.
Saya datang sebagai orang luar, tetapi dalam banyak kesempatan, masyarakat Indonesia tidak membuat saya merasa seperti orang asing.
Orang-Orang yang Bekerja Tanpa Mengejar Panggung
Kehidupan di Indonesia juga mempertemukan kami dengan banyak orang yang memiliki dedikasi luar biasa.
Mereka bekerja keras. Mereka setia terhadap tanggung jawab. Mereka memiliki standar tinggi dan terus ingin belajar.
Semua kualitas tersebut mengesankan.
Tetapi ada satu hal lain yang semakin saya hargai: tidak semua orang merasa perlu mendapatkan sorotan.
Saya melihat banyak pekerjaan penting diselesaikan tanpa keinginan untuk mengumumkan siapa yang paling berjasa.
Di tengah dunia yang sering mengukur keberhasilan melalui perhatian dan pengakuan, pengalaman itu terasa sangat berbeda.
Kemudian saya memahami kata ikhlas.
Saya mungkin tidak akan pernah mampu menerjemahkannya dengan sempurna. Namun bagi saya, ikhlas berarti memberikan usaha terbaik tanpa menjadikan pujian sebagai syarat.
Melakukan sesuatu karena memang perlu dilakukan.
Bukan karena semua orang harus melihatnya.
Ada Batas di Balik Kelembutan
Selama tinggal di Indonesia, saya juga menyadari bahwa kesopanan sering disalahartikan oleh orang luar.
Seseorang yang tenang bukan berarti tidak memiliki pendirian.
Seseorang yang menghindari pertengkaran juga bukan berarti akan menerima segala perlakuan.
Di balik kelembutan masyarakat Indonesia, saya melihat adanya harga diri yang kuat.
Ketika rasa hormat hilang atau kepercayaan tidak lagi ada, responsnya sering tidak dramatis.
Tidak selalu ada konfrontasi keras.
Kadang-kadang, seseorang cukup menjauh.
Bagi saya, itu merupakan bentuk ketegasan tersendiri.
Ada saat ketika penjelasan tidak lagi dapat memperbaiki keadaan. Ada hubungan yang berubah setelah kepercayaan rusak. Dalam situasi seperti itu, menjaga martabat dapat lebih penting daripada memenangkan perdebatan.
Adem dan Seni Menjadi Hebat Tanpa Banyak Suara
Salah satu kata Indonesia favorit saya adalah adem.
Maknanya lebih luas daripada sekadar udara yang sejuk. Kata tersebut juga dapat menggambarkan ketenangan yang membuat suasana terasa nyaman.
Saya sering menemukan perasaan itu ketika bermain bridge di Jakarta.
Saya telah bertemu banyak pemain Indonesia dengan kemampuan luar biasa. Mereka memahami strategi, memiliki keterampilan teknis tinggi, dan terus mempelajari perkembangan terbaru dalam permainan.
Namun kehebatan mereka jarang tampil sebagai kesombongan.
Mereka tidak selalu merasa perlu memastikan semua orang mengetahui betapa baiknya kemampuan mereka.
Ada sesuatu yang menarik dari sikap tersebut.
Indonesia menunjukkan kepada saya bahwa seseorang dapat mengetahui nilai dirinya sendiri tanpa terus-menerus mengumumkannya.
Percaya diri tidak selalu harus berisik.
Kemampuan besar dapat hadir bersama kerendahan hati.
Dan mungkin itulah salah satu bentuk adem yang paling saya sukai.
Indonesia Mengajarkan Saya untuk Tidak Memaksa Waktu
Saya pernah berpikir bahwa sabar hanya berarti menunggu tanpa mengeluh.
Setelah hidup di Indonesia, pemahaman saya berubah.
Sabar ternyata juga berkaitan dengan cara kita memandang waktu dan proses.
Tidak semua hal harus segera selesai.
Tidak semua jawaban harus ditemukan hari ini.
Tidak semua perkembangan dapat dipaksa.
Ketika membesarkan dua putra kami hingga dewasa, saya semakin memahami nilai tersebut.
Orang tua tentu ingin melindungi anak-anak dan mengarahkan mereka menuju pilihan terbaik. Namun suatu saat kita belajar bahwa manusia memiliki perjalanan sendiri.
Ada masa untuk memberikan nasihat.
Ada masa untuk membantu.
Ada pula masa ketika yang dapat dilakukan hanyalah tetap hadir, memberikan kasih sayang, dan percaya bahwa seseorang akan tumbuh pada waktunya.
Syukur yang Tidak Menunggu Kejadian Besar
Jika sabar mengajarkan saya untuk menghormati proses, syukur mengajarkan saya untuk memperhatikan apa yang sudah tersedia.
Pelajaran itu datang melalui sebuah kebiasaan yang sangat sederhana.
Setiap kali kami mulai bepergian, sopir kami mengucapkan doa pendek. Setelah perjalanan selesai dengan selamat, ia kembali bersyukur.
Kebiasaan tersebut mungkin tampak kecil.
Namun semakin sering saya melihatnya, semakin saya menyadari maknanya.
Kita sering membayangkan rasa syukur sebagai sesuatu yang muncul setelah keberhasilan besar. Kita menunggu promosi, pencapaian, perayaan, atau perubahan hidup yang luar biasa.
Indonesia mengajarkan bahwa tiba dengan selamat sudah dapat menjadi alasan untuk berterima kasih.
Hari biasa pun layak dihargai.
Perubahan yang Terlihat dari Isi Dapur
Makanan Indonesia layak mendapatkan cerita tersendiri.
Namun salah satu bukti paling nyata mengenai perubahan keluarga kami dapat dilihat dengan membuka lemari dapur.
Bahan-bahan yang dulu tidak dikenal kini selalu tersedia.
Kemiri, terasi, daun jeruk, dan kecap manis menjadi bagian dari kehidupan memasak kami. Hidangan yang awalnya dibuat sebagai percobaan kini berubah menjadi makanan keluarga.
Beberapa bahkan lebih sering diminta daripada menu yang kami kenal sejak masa kecil.
Tidak ada keputusan resmi untuk mengubah cara kami makan.
Perubahan itu terjadi dengan sendirinya.
Dan mungkin itulah cara sebuah budaya benar-benar masuk ke dalam kehidupan seseorang.
Bukan melalui deklarasi besar, melainkan melalui kebiasaan yang perlahan terasa alami.
Ketika Tempat Tinggal Menjadi Bagian dari Diri Kita
Menulis refleksi ini membuat saya melihat kembali hampir dua belas tahun kehidupan keluarga kami di Indonesia.
Saya menyadari bahwa negeri ini tidak hanya memberikan pengalaman.
Indonesia juga meninggalkan kebiasaan dan cara pandang.
Kami menjadi sedikit lebih berhati-hati sebelum menghakimi seseorang.
Kami belajar memberikan ruang lebih besar kepada orang lain.
Kami mencoba tidak memaksakan semua proses berjalan sesuai keinginan.
Dan kami menjadi lebih mudah menemukan alasan untuk bersyukur.
Mungkin inilah salah satu akibat paling dalam dari hidup lama di negeri lain.
Pada awalnya, kita mencoba memahami negara tersebut.
Kita mempelajari bahasanya. Kita mengenali kebiasaannya. Kita menyesuaikan diri dengan masyarakatnya.
Namun setelah bertahun-tahun, sesuatu yang berbeda terjadi.
Tanpa disadari, negeri itu mulai membentuk kita.
Kemudian datang satu hari ketika kita memahami bahwa tempat tersebut tidak lagi sekadar menjadi lokasi kehidupan sementara.
Ia telah masuk ke dalam kisah keluarga kita.
Dan ketika kita suatu saat melihat kembali diri sendiri, kita menyadari bahwa sebagian dari diri kita telah berubah karena pernah hidup di sana.
Bagi keluarga kami, tempat itu adalah Indonesia.
*Gunjan Prasad adalah penulis dari India yang telah menjalani kehidupan bersama keluarganya di Indonesia selama hampir dua belas tahun. Pengalamannya melintasi dua budaya menjadi dasar berbagai tulisan mengenai masyarakat, keluarga, pendidikan, dan hubungan antarmanusia.

