BREAKING NEWS

Bitcoin Melemah ke US$84.000, FLOQ Sebut Investor Masih Tunggu Arah Makro Global

 


Pergerakan Bitcoin kembali menjadi perhatian pasar setelah harga aset kripto tersebut terkoreksi ke kisaran US$84.000 pada perdagangan Kamis (24/9/2026).

Bitcoin tercatat turun sekitar 2 persen setelah gagal menembus area US$87.000. Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya yield obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun yang mencapai 5,11 persen.

Bagi pasar aset digital, pergerakan yield Treasury menjadi salah satu indikator penting karena perubahan imbal hasil obligasi dapat memengaruhi preferensi investor terhadap aset berisiko.

FLOQ mencatat Bitcoin sempat berada di level US$84.425 dengan penurunan harian sekitar 2,06 persen. Dari perspektif teknikal, area US$83.500 menjadi batas penting yang diperhatikan pasar. Jika tekanan jual meningkat, Bitcoin berpotensi bergerak menuju area US$81.000.

Pasar Masih Menyesuaikan dengan Faktor Makro

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, melihat koreksi Bitcoin saat ini lebih berkaitan dengan respons pasar terhadap kondisi ekonomi global.

Menurutnya, investor sedang melakukan penyesuaian terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan pergerakan imbal hasil obligasi AS.

"Kenaikan yield Treasury membuat investor kembali menghitung tingkat risiko dan potensi imbal hasil dari berbagai aset. Hal ini menciptakan tekanan jangka pendek terhadap aset seperti Bitcoin," jelas Yudho.

Namun, ia menilai kondisi tersebut tidak serta-merta menggambarkan perubahan fundamental Bitcoin dalam jangka panjang.

"Yang perlu diperhatikan bukan hanya penurunan harga dalam satu hari, tetapi bagaimana pasar merespons setelah tekanan makro mulai mereda," ujarnya.

Menurut Yudho, investor perlu melihat gambaran yang lebih luas, termasuk likuiditas pasar, permintaan institusional, serta perkembangan regulasi aset digital.

Minat Institusi Masih Terlihat Melalui ETF

Di tengah koreksi harga, produk investasi Bitcoin berbasis spot ETF di Amerika Serikat masih mencatat arus dana masuk.

Data pada 21 September 2026 menunjukkan ETF Bitcoin spot AS mencatat inflow bersih sekitar US$998,95 juta. Arus terbesar berasal dari beberapa produk investasi institusional seperti BlackRock IBIT, ARKB, dan FBTC.

Bagi FLOQ, kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian investor masih melihat Bitcoin sebagai aset dengan potensi jangka panjang meskipun pasar mengalami volatilitas.

"Ada dua dinamika yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, pasar menghadapi tekanan dari faktor makro. Di sisi lain, permintaan dari investor dengan horizon lebih panjang masih terlihat," kata Yudho.

Volatilitas Diperkirakan Berlanjut

Ke depan, pasar Bitcoin masih akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari kebijakan bank sentral AS, perkembangan inflasi, kondisi likuiditas global, hingga sentimen geopolitik.

Dengan posisi support di sekitar US$83.500 dan resistensi di US$87.000, investor akan mencermati apakah Bitcoin mampu membangun momentum baru atau masih menghadapi tekanan lanjutan.

"Volatilitas merupakan bagian dari dinamika pasar aset digital. Investor perlu melihat berbagai indikator secara menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada perubahan harga jangka pendek," tutup Yudho.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar