KAI Logistik Dorong Ekonomi Sirkular melalui Pengelolaan Sampah
Upaya mengurangi sampah dari aktivitas operasional menjadi salah satu langkah yang ditempuh KAI Logistik dalam menjalankan agenda keberlanjutan perusahaan. Pada triwulan III 2026, perusahaan memperkuat sistem pengelolaan sampah di Kantor Pusat dengan menerapkan pemilahan dan mengarahkan material kepada mitra pengelola sesuai jenis serta karakteristiknya.
Program ini dirancang agar sampah tidak seluruhnya berakhir sebagai limbah yang dibuang. Material yang masih dapat dimanfaatkan diproses kembali melalui berbagai metode, sehingga memiliki peluang untuk masuk ke dalam rantai penggunaan baru.
Selama Agustus 2026, tercatat 753,5 kilogram sampah berasal dari area Kantor Pusat KAI Logistik. Perusahaan melakukan pemilahan terhadap seluruh timbulan tersebut dan memastikan tidak ada sampah yang langsung dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA).
Sampah plastik menjadi salah satu komponen terbesar dengan volume 185,2 kilogram atau 24,6%. Berikutnya terdapat sampah organik sebesar 136,2 kilogram, kertas 113,8 kilogram, kaca 6,3 kilogram, dan logam 4,5 kilogram. Sementara kategori residu serta material lainnya mencapai 307,5 kilogram.
Manager Public Relations KAI Logistik, Adjeng Putri Adhatu, menjelaskan bahwa pendekatan pengelolaan dari sumber dipilih untuk membangun kebiasaan pengelolaan lingkungan yang lebih bertanggung jawab.
“Pengelolaan sampah menjadi salah satu langkah konkret yang dapat dimulai dari lingkungan kerja. Karena itu, kami memperkuat proses pemilahan sejak dari sumber dan bekerja sama dengan mitra yang dapat mengolah maupun memanfaatkan material tersebut sesuai karakteristiknya,” kata Adjeng.
Material yang memiliki potensi daur ulang disalurkan kepada fasilitas pengolahan pihak ketiga. Untuk sampah organik, KAI Logistik menerapkan pengomposan serta pemanfaatan maggot. Sementara sampah residu mendapatkan penanganan lanjutan melalui teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) untuk menghasilkan bahan bakar alternatif.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep circular economy yang berupaya memperpanjang masa manfaat material dan mengurangi jumlah limbah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir.
Inisiatif serupa juga diterapkan KAI Logistik melalui pemanfaatan kembali pakaian dinas yang sudah tidak terpakai. Material pakaian tersebut diproses dan diubah menjadi produk baru yang memiliki kegunaan, sehingga tidak langsung menjadi sampah tekstil.
KAI Logistik menjadikan implementasi pengelolaan sampah di Kantor Pusat sebagai pilot project untuk mengembangkan sistem serupa di area lainnya. Perusahaan membuka peluang untuk memperluas program tersebut ke wilayah operasional dan lini bisnis sesuai kesiapan masing-masing area.
Menurut Adjeng, perluasan program menjadi bagian dari upaya perusahaan membangun sistem pengelolaan lingkungan yang konsisten. “Kami ingin inisiatif ini berkembang secara bertahap dari Kantor Pusat menuju area operasional lainnya, sehingga praktik pengelolaan sampah dapat menjadi bagian dari aktivitas KAI Logistik secara lebih menyeluruh,” ujarnya.
Program pengelolaan sampah tersebut juga ditempatkan sebagai salah satu quick win dalam peta jalan ESG KAI Logistik. Bersama berbagai inisiatif keberlanjutan lainnya, perusahaan terus mengembangkan praktik green logistics dengan memperhatikan aspek lingkungan dalam aktivitas bisnis.
Melalui langkah tersebut, KAI Logistik berupaya membangun operasional yang tidak hanya mendukung kebutuhan distribusi logistik, tetapi juga mendorong efisiensi sumber daya, pengurangan limbah, dan penerapan prinsip keberlanjutan secara berkesinambungan.

